Tampilkan postingan dengan label moto test. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moto test. Tampilkan semua postingan
0

Honda tiger revo,V-IXION ,CBR 150,Bajaj DTS-i pulsar,Kawasaki 150 KRR, pilih mana ya??

sebenernya sih ini perbandingan yang beda kelas, jika dilihat dari selisih harga yang cukup jauh. untuk 'motor murah' (dibawah 20jt-an) dan teknologi mumpuni, jelas pilihan jatuh pada pulsar 180 ato V-Ixion, walau keduanya terpaut harga 2jt-an tapi itu sebanding dengan teknologi yang ditawarkan oleh keduanya. pulsar 180 dengan teknologi DTS-i nya dan V-Ixion dengan SOHC 4 klep nya, untuk penggemar sport, jelas akan pilihannya akan jatuh ke V-Ixion, tapi jika penggemar touring pilihan akan jatuh ke pulsar. sedangkan untuk jajaran 'motor mahal' (karena harganya jauh diatas 20jt-an) ada Revo, CBR 150, dan KRR 150, jika dilihat dari segi teknologi jelas sekali bahwa ketiganya berbeda kelas, untuk profil motor sport touring yang 'terkesan elegan' pilihan jatuh pada Revo, tapi dengan fitur mesin yg gitu2 aja dari dulu (tanpa ada perubahan signifikan pada mesin)
maaf, bukannya bermaksud untuk menjelek2an suatu merk, tapi untuk Revo kayaknya sama aja kayak Tigy sebelumya dalam hal mesin, hanya penampilannya aja yg berubah. berikutnya ada CBR 150 dan KRR 150, keduanya walaupun sama2 motor sport tapi berbeda teknologi, yang satu 2 tak dan yang satunya lagi 4 tak, untuk urusan tarikan, 2 tak dari dulu memang terkenal kenceng banget, tapi bukan berarti CBR 150 kalah ma KRR 150 soal kecepatan, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing2 dengan teknologi yang diusungnya...
kalo udah gini pasti larinya ke masalah konsumsi BBM, memang agak mustahil ada motor kenceng tapi konsumsi BBM nya irit banget (jadi inget iklan s*z*k* sm*sh yang baru...:-p), untuk urusan yang satu ini mendingan disesuaikan dengan budget operasional kita masing2...:D
nah jadi pada intinya klo milih motor harus disesuaikan dengan kebutuhan...
Motor yang kita pake bakalan kita apain? mo dipake balapan kah? cuman sekedar nogkrong? ato cumahsekedar kendaraan operasional sehari hari?

silahkan bro semua renungkan kembali.
0

Muncul Asap Putih pada Motor Baru

Jangan dulu memvonis motor Anda cacat produksi lantaran setiap kali pemanasan dari knalpot acap mengeluarkan asap putih kebirua.bukan dari oli yang menyelinap dan hangus terbakar di dalam dapur pacu.

Menurut keduanya, sejak dipakai 4 bulan lalu, setiap mau memanaskan mesin, dari knalpot menyembul asap putih kebiruan. Padahal, kata mereka, motornya dahulu tak seperti itu.
Kenapa, ya?
Untuk memuaskan konsumen, keluhan itu diteruskan kepada Sarwono Edhi, Technical Service Devision PT Astra Honda Motor (AHM) selaku produsen Honda. Munculnya asap putih dan knalpot Balde 110 dan Revo 110,
Penyebabnya, dari muffler yang masih baru. Biasanya, lapisan antikarat ikut terbakar. Apalagi di pagi hari, ada uap air di perut knalpot yang ikut mendukung munculnya asap. "Gejala ini berlangsung kurang lebih selama satu bulan.
AHM sendiri menganggap hal ini normal. Kecuali kepala busi tampak basah karena ada rembesan oli. Itu artinya terdapat kebocoran di ruang bakar. Lenyapnya asap putih bersamaan habisnya lapisan antikarat.

Lain hal bila asap terus muncul. Umumnya, papar Sarwono, dipicu beberapa faktor. Di antaranya, adanya kebocoran pada sil oli klep, piston baret atau ring piston lemah. Untuk motor baru, jangan sekali terjadi dan kecil kemungkinannya.Coba periksa kondisi sil klep yang berada di atas siting klep beserta keausan bos siting klepnya. Bila dua komponen itu mulai aus dan bocor, oli yang bersirkulasi di ruang kem sangat mungkin masuk ke ruang bakar lewat batang klep.
Begitu juga jika ring seher atau piston sudah terkikis. Oli di bak mesin untuk melumasi kruk as, setang seher, seher, dan dinding liner sudah tak maksimal. Oli menyelinap masuk ruang bakar lewat bekas goresan ring seher atau liner silinder. Tumpukan oli pun ikut terbakar.
0

Yamaha YZF-M1 VS Ducati GP9

Balap motor prototype (MotoGP) selalu menyuguhkan pertandingan teknologi, begitu juga dengan Yamaha dan Ducati. Saat Ducati unggul dengan katup desmodromic, Yamaha mati-matian mengembangkan katup pneumatic. Giliran mesin 800cc Yamaha yang berkatup pneumatic tadi bisa selaras dengan sasis baru aluminium twin tube delta box, giliran Ducati yang kewalahan karena sasisnya terus bermasalah di musim 2008 lalu.

Enggak mau kalah, Ducati pun menjawab kekalahannya dengan sasis carbon fiber. Sebenarnya teknologi baru Ducati dengan frame karbon fibernya ini bukan semata-mata ingin mengejar Yamaha tapi yang lebih penting adalah bagaimana menyalurkan tenaga mesin sebaik-baiknya. Hal yang sama juga dilakukan Yamaha pada musim 2008 lalu ketika pada 2007 juga bermasalah dengan sasis.

Sasis Yamaha Menari Bersama Pembalap

Sesuai karakter mesin 4 silinder segarisnya, Yamaha YZF-M1 memiliki karakter yang sangat halus. Tidak pernah satupun pembalap Yamaha mengeluhkan tenaga YZF-M1 terlalu liar. Maka dari itu Yamaha tetap bergelut dengan sasis yang tak jauh berbeda dengan yang dipakainya pada tahun 2008 lalu. Aluminium twin tube delta box yang dipakai Yamaha dirasa sudah lebih kaku dari versi sebelumnya (2007) sehingga dianggap mampu untuk meredam tenaga lebih dari 200 dk.

Hanya saja sasis ini tetap dirancang dengan fleksibilitas tinggi. Selain karena materialnya yang terbuat dari alumunium, sasis ini juga dibuat dengan fitur multi adjustable pada steering geometry, wheelbase dan ride height yang memungkinkan pembalap melakukan settingan sesuai karakter balap dan sirkuit yang dilaluinya. Yang pasti pembalap jadi punya pilihan untuk menciptakan settingan yang sesuai dengan tariannya sendiri-sendiri.

Sasis Yamaha lentur dan fleksibel

Sebenarnya kelincahan sasis Yamaha YZF-M1 yang selama ini digembar-gemborkan juga didukung dengan desain kruk as mesin YZF-M1 yang berbeda dengan rival-rivalnya karena berputar ke belakang.

Keuntungannya gaya gyroscopic yang dihasilkan motor saat berlari bisa dikurangi. Gaya gyroscopic jika terlalu besar bisa merugikan karena membuat motor terlalu kaku. Dengan desain kruk as ini efeknya motor lebih nurut diajak menari meski di Yamaha YZF-M1 hanya memiliki satu unit gyroscopic sensor.

Gyroscopic sensor ini memberikan input pada data logger untuk memerintahkan ECU memberikan komposisi tenaga yang tepat yang membuat motor mudah dibelokan. Selain Gyroscopic sensor, Yamaha YZR-M1 juga dilengkapi dengan wheel speed sensors, suspension sensor, GPS dan bank angle untuk mengaktifkan traction contol, anti wheeli contol, brake control, launch contol dan banyak lagi fitur control assist pada Yamaha YZR-M1. Tapi kalau ternyata tetap kalah dari Ducati, kayaknya Yamaha memang harus upgrade lagi performa mesinnya!

Carbon Fiber Meredam Tenaga Gajah Ducati

Tenaga Ducati GP9 sudah diakui begitu luar biasa. Konstruksi empat silinder V4 90 derajatnya mampu menghasilkan tenaga diatas 200 dk dan mampu berlari lebih dari 310km/jam. Selain Stoner, joki lain agaknya tidak biasa dengan tenaga yang meledak-ledak. Karena sasis turbular yang sebelumnya dipakai terbukti terlalu lentur dan tidak mampu membuat Ducati GP9 nurut diajak bermanuver. Sampai akhirnya datang ide gila untuk membuat sasis monocoque dari bahan dasar komposit serat karbon.

Sesuai namanya, monocoque adalah jenis sasis yang menyatu dengan bodi. Kalau di motor mungkin mirip konstruksi Vespa, tapi di mobil hampir semua mobil baru sudah memakai sasis jenis ini. Salah satu keuntungannya adalah soal kenyamanan. Tapi di balap kenyamanan jadi nomor dua yang terpenting dari konstruksi ini adalah karakter rigidnya.

Boks air filter ada disasis ini

Sedang karbonnya sendiri punya karakter kuat tapi ringan. Konstruksi monocoque nya sendiri punya maksud untuk memperbanyak komposit karbon fiber agar semakin kuat dan rigit.

Selain itu pilihan material ini juga punya maksud untuk menekan biaya dan mempermudah modifikasi. Tingkat kekerasan dan kelenturannya bisa diatur dapat dicapai hanya dengan mengubah jenis dan jumlah dari karbon fiber, menggunakan peralatan yang sama.

Sesuai konsep Ducati yang lari dari konsep sasis konvensional. Ducati menganggap mesin, main frame, sub frame, swing arm dan sokbraker depan jadi satu kesatuan. Sasis bukan penghubung satu part dengan part lainnya.

Jadi jangan heran bila main frame hanya menghubungkan mesin dengan komstir. Main frame juga didesain sebagai tempat air filter. Sedang swing arm terhubung langsung pada mesin. Begitu juga dengan sub frame yang menghubungkan mesin ke jok dan footstep.

Akhirnya sasis yang sangat kaku dan jadi satu kesatuan ini mampu meredam liarnya mesin Ducati GP9. “Dengan sasis ini Stoner tidak hanya menunggu saat akan mau masuk tikungan, tapi bisa lebih agresif. Selain itu ketika keluar dari tikungan roda belakang juga bisa memperoleh torsi lebih,” terang Filippo Preziosi, technical director Ducati.

Buktinya saat di uji di Jerez yang sebelumnya dianggap sulit bagi Ducati, Stoner justru cepat disana. Tapi perlu diingat keberhasilan Stoner tetap didukung perangkat control assist sama seperti yang dipakai Rossi di Yamaha YZR-M1nya.

0

HONDA CBR150SE VS Minerva R150SE


MOTOR PLUS/GTMOTOR PLUS/GTMOTOR PLUS/GTMOTOR PLUS/GT
Silakan cermati, di mana letak perbedaannya


Hati-hati mata Anda ketika menatap Honda CBR 150R. Bisa-bisa motor jenis sport yang dilirik itu, bukan dari Jepang, tak lain Minerva R150SE. Atau sebaliknya, sulit menebak yang mana Minerva saat berada di antara CBR.

Sebab, motor jenis sport dari Jepang itu punya kembarannya. Desainnya bagaikan pinang dibelah dua. Namanya Minerva R150SE. Uniknya, motor ini peranakan China dan Jerman.

Dalam kolaborasi ini, negeri tirai bambu yang memproduksi mesin menggandeng perusahaan shockbreaker dari Jerman Minerva Sachs. Menariknya, harganya dibanderol Rp 16 jutaan, sedangkan CBR 150R dilego Rp 36 jutaan dan kedua-keduanya begitu banyak diminati, dan di milis pun ramai dibahas.

Supaya enggak penasaran, mari kita coba membedah kelebihan dan kekurangan dari kedua motor itu.

Kesamaannya
Soal desain sudah disebutkan di atas, mirip plek…blek. Begitu juga spidometernya. Yang membedakan, pojok sebelah kanan. Kalau Minerva ada indikator penunjuk voltmeter untuk mengukur kondisi aki (baterai), CBR memiliki penunjuk suhu mesin karena mesin Honda dilengkapi dengan sistem pendinginan. Pantas kalau benderolnya di atas Rp 30 juta lantaran menawarkan liquid cooled alias radiator.

Minerva R150SE juga pakai. Hanya, itu bukan buat pendinginan dapur pacu, melainkan kelancaran sistem sirkulasi oli, populernya disebut oil cooler.

Kemiripan lainnya tampak pada sistem rem belakang, sama-sama mengadopsi rem cakram. Kecuali depan, kaki CBR menganut teleskopik, sedangkan R150SE dengan model upside down. Ketika dites, soal kelincahan, handling, dan redaman, teleskopik tidak kalah sama upside down.

Perbedaan
Mesin sama-sama berkapasitas 149 cc, tetapi teknologinya yang lain. Honda berkonsep double overhead camshaft (DOHC). Jadi, dua noken as untuk menggerakkan kinerja buka tutup klep. Kemudian ia menggunakan 6 tingkat percepatan.

Adapun Minerva mengusung konsep single overhead camshaft (SOHC). Sementara itu, pola pengoperasian gigi persneling punya 5 tingkat percepatan model sport tulen. Jadi, gigi satu ke bawah, untuk pindah kedua, tiga, dan seterusnya dicungkil ke atas.

Dari uji coba kemampuan jalan, R150SE jauh di bawah CBR. Untuk akselerasi 0-60 km/jam, Honda bisa menembus waktu 4,02 detik, sedangkan R150SE jauh di atas, apalagi untuk kecepatan 0-100 km/jam, Honda mampu mencatat 6,80 detik.

Kesimpulannya, mahalnya harga CBR 150R memang tidak bohong.